Berita Terbaru
Update terbaru seputar produk, project, dan insight industri dari tim kami.
Perbedaan Insulation Class B dan F pada Motor Listrik
Perbedaan insulation class B dan F pada motor listrik terutama terletak pada kemampuan sistem isolasinya terhadap temperatur.
Class B: sekitar 130°C
Class F: sekitar 155°C
Dengan demikian, Class F memiliki kemampuan temperatur lebih tinggi dan memberikan thermal margin yang lebih besar dibandingkan Class B.
Namun, insulation class bukan berarti temperatur kerja normal motor. Untuk menilai performa motor secara lengkap, perlu melihat temperature rise, ambient temperature, duty, cooling, load, VFD compatibility, dan kondisi instalasi.
Untuk aplikasi industri, Class F sering menjadi pilihan karena memberikan fleksibilitas dan thermal margin yang lebih besar. Tetapi Class B tetap dapat digunakan apabila sesuai dengan kebutuhan dan kondisi operasi motor.
Ringkasnya:
Class B → 130°C
Class F → 155°C
Class F + Temperature Rise B → thermal margin lebih besar
Class F ≠ otomatis inverter-duty
Pemilihan insulation class yang tepat dapat membantu memastikan motor bekerja secara aman dan andal sesuai kondisi aplikasinya.
Baca selengkapnya

Hubungan Kecepatan Produksi dengan Efisiensi Automatic Production Line
Kecepatan produksi memiliki hubungan yang sangat erat dengan efisiensi automatic production line, tetapi kecepatan maksimum bukan selalu kecepatan terbaik.
Production line yang efisien harus mampu menyeimbangkan:
Production Speed + Cycle Time + Quality + Availability + Downtime + Bottleneck
Penggunaan PLC, HMI, sensor, motor, inverter, conveyor, dan actuator memungkinkan berbagai parameter tersebut dikontrol dan dimonitor secara lebih konsisten.
Strategi terbaik bukan sekadar:
“Bagaimana membuat mesin bekerja lebih cepat?”
tetapi:
“Bagaimana mendapatkan output maksimum dengan kualitas yang tetap konsisten dan downtime serta waste tetap rendah?”
Dengan pendekatan tersebut, perusahaan dapat menentukan optimal production speed yang sesuai dengan kapasitas setiap mesin dan kebutuhan produksi.
Pada akhirnya, automatic production line yang produktif bukanlah lini produksi yang bekerja paling cepat, tetapi lini produksi yang mampu menghasilkan good product secara konsisten, stabil, dan efisien.
Baca selengkapnya

Manfaat Production Line Automation untuk Meningkatkan Produktivitas
Production line automation dapat menjadi strategi penting untuk meningkatkan produktivitas pabrik, terutama pada proses produksi dengan volume tinggi dan pekerjaan yang repetitif.
Manfaat utamanya meliputi:
Meningkatkan kecepatan produksi.
Meningkatkan konsistensi proses.
Mengurangi human error.
Meningkatkan output.
Mengurangi downtime.
Meningkatkan efisiensi tenaga kerja.
Mengurangi waste dan produk reject.
Meningkatkan akurasi produksi.
Mempermudah monitoring.
Mendukung efisiensi biaya operasional.
Dengan mengintegrasikan PLC, HMI, sensor, motor, inverter, conveyor, actuator, dan mesin produksi, perusahaan dapat membangun lini produksi yang lebih terkontrol dan efisien.
Namun, automation sebaiknya tidak dilakukan hanya karena mengikuti tren. Analisis bottleneck, kapasitas produksi, kebutuhan proses, maintenance, dan ROI harus menjadi dasar sebelum menentukan sistem automation.
Bagi perusahaan yang ingin meningkatkan kapasitas produksi secara bertahap, pendekatan terbaik dapat dimulai dari proses yang paling banyak mengalami bottleneck, human error, atau pekerjaan repetitif, kemudian dikembangkan menjadi production line automation yang terintegrasi.
Baca selengkapnya

Berapa Lama Proses Pengolahan Food Waste dengan Mesin Compost?
Berapa lama proses pengolahan food waste dengan mesin compost?
Untuk Mesin Food Waste Compost dari PT. Wannan Inti Teknologi, proses pengolahannya adalah 1×24 jam.
Dengan waktu satu hari per siklus, mesin dapat menjadi solusi bagi fasilitas yang menghasilkan food waste setiap hari dan membutuhkan sistem pengolahan yang lebih cepat serta terkontrol.
Alur sederhananya:
Food Waste → Mesin Compost → Proses 24 Jam → Hasil Pengolahan
Namun, kualitas output tetap dipengaruhi oleh jenis food waste, kadar air, komposisi bahan, aerasi, temperatur, kapasitas input, dan kondisi operasional.
Yang paling penting, 1×24 jam adalah waktu proses mesin, bukan klaim universal bahwa semua jenis kompos akan memiliki tingkat kematangan yang sama dalam 24 jam. Durasi composting memang sangat bergantung pada teknologi dan kondisi proses.
Dengan penggunaan dan maintenance yang tepat, Food Waste Compost dari PT. Wannan Inti Teknologi dapat membantu perusahaan mengolah food waste secara lebih cepat dan mendukung penerapan pengelolaan sampah organik yang lebih berkelanjutan.
Baca selengkapnya

Apakah Mesin Food Waste Bisa Menghasilkan Kompos?
Apakah mesin food waste bisa menghasilkan kompos?
Jawabannya adalah YA.
Food Waste Compost Machine dari PT. Wannan Inti Teknologi dirancang untuk membantu mengolah limbah makanan dan material organik melalui proses composting hingga menghasilkan kompos.
Namun, penting untuk memahami bahwa mesin food waste dryer atau dehydrator tidak otomatis menghasilkan kompos. Composting merupakan proses biologis yang membutuhkan pengelolaan kondisi seperti oksigen, kelembapan, temperatur, ukuran partikel, dan komposisi bahan.
Dengan menggunakan mesin yang sesuai, food waste dapat diarahkan dari:
“Sampah yang Dibuang”
menjadi:
“Material Organik yang Diolah dan Dimanfaatkan Kembali.”
Bagi hotel, restoran, rumah sakit, industri makanan, supermarket, kantin, food court, maupun fasilitas pengelolaan sampah, mesin Food Waste Compost dari PT. Wannan Inti Teknologi dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi food waste sekaligus menghasilkan kompos.
Baca selengkapnya

Penyebab Suhu Retort Tidak Stabil Saat Proses Sterilisasi
Suhu retort tidak stabil saat proses sterilisasi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, bukan hanya heater.
10 penyebab yang paling perlu diperiksa adalah:
Temperature sensor bermasalah.
Sensor tidak terkalibrasi.
Sirkulasi air tidak optimal.
Heater tidak konsisten.
Control valve bermasalah.
PID tuning tidak tepat.
Pressure tidak stabil.
Loading produk tidak konsisten.
Piping atau distribution system bermasalah.
PLC atau parameter kontrol mengalami gangguan.
Troubleshooting sebaiknya dilakukan dengan pendekatan sistematis mulai dari sensor → heating → circulation → valve → control system → loading pattern.
Yang tidak kalah penting, parameter proses retort tidak boleh diubah hanya untuk "membuat suhu stabil". Untuk produk pangan, perubahan temperature, pressure, holding time, atau loading pattern harus mengikuti prosedur quality assurance dan proses yang telah divalidasi.
Dengan preventive maintenance, calibration, monitoring temperature trend, serta pemeriksaan komponen secara rutin, performa mesin retort dapat lebih stabil dan risiko downtime maupun masalah proses dapat dikurangi.
Baca selengkapnya

Komponen Mesin Retort yang Harus Rutin Diperiksa
Komponen mesin retort harus diperiksa secara rutin karena mesin bekerja dengan kombinasi temperatur, tekanan, waktu, dan sistem kontrol yang saling berkaitan.
Komponen penting yang perlu mendapatkan perhatian meliputi:
Retort chamber.
Door dan locking system.
Door gasket.
Temperature sensor.
Pressure sensor.
Safety valve.
Control valve.
Water circulation pump.
Heater.
Piping.
PLC dan HMI.
Electrical control panel.
Maintenance yang baik bukan hanya bertujuan menjaga mesin tetap hidup, tetapi juga memastikan sistem bekerja sesuai desain dan prosedur keselamatan.
Dengan menerapkan preventive maintenance, calibration, inspection, monitoring, dan dokumentasi, risiko downtime dan kerusakan dapat ditekan sekaligus membantu menjaga konsistensi proses food processing.
Baca selengkapnya

Maintenance Mesin Packaging: Kesalahan yang Harus Dihindari
Maintenance mesin packaging tidak boleh hanya dilakukan ketika mesin mengalami kerusakan.
Kesalahan seperti:
Menunggu mesin rusak.
Tidak memiliki jadwal maintenance.
Cleaning yang salah.
Mengabaikan sensor.
Tidak memeriksa sealing system.
Mengabaikan motor dan gearbox.
Salah menggunakan lubricant.
Mengabaikan pneumatic.
Hanya melakukan reset alarm.
Tidak mencatat histori maintenance.
dapat meningkatkan risiko downtime, reject, dan biaya perbaikan.
Pendekatan yang lebih baik adalah menggabungkan:
Preventive Maintenance + Condition Monitoring + Troubleshooting + Documentation
Dengan maintenance yang terencana, pabrik dapat menjaga mesin packaging tetap bekerja secara konsisten, mengurangi risiko breakdown mendadak, dan mendukung target produksi.
Pada akhirnya, tujuan maintenance bukan sekadar “memperbaiki mesin yang rusak”, tetapi memastikan mesin tetap aman, stabil, efisien, dan siap digunakan ketika dibutuhkan.
Baca selengkapnya


